Kembali ke Blog
Ilustrasi artikel kesalahan umum website UMKM

5 Kesalahan Umum Website UMKM (dan Cara Menghindarinya)

Websitenya sudah jadi. Tampilannya bagus, warnanya sesuai brand, fotonya rapi. Tapi sudah jalan beberapa bulan dan pesan yang masuk lewat website bisa dihitung jari. Anda mulai curiga jangan-jangan website memang tidak berguna untuk bisnis seperti Anda.

Biasanya bukan itu masalahnya. Ada lima kesalahan yang berulang kali kami temui, dan semuanya tidak kelihatan dari mata pemilik bisnis, karena Anda sudah tahu isi website Anda sendiri. Pengunjung tidak. Berikut kelimanya, lengkap dengan cara mengeceknya sendiri hari ini juga.

1. Kontak yang harus dicari dulu

Ini yang paling sering, dan paling mahal. Nomor WhatsApp cuma ada di halaman Kontak, yang cuma bisa dibuka lewat menu. Artinya pengunjung yang sudah tertarik harus berhenti membaca, mencari menu, memilih halaman, lalu menyalin nomor. Setiap langkah itu adalah kesempatan dia berubah pikiran.

Aturannya sederhana: di layar mana pun pengunjung berhenti, cara menghubungi Anda harus terlihat tanpa perlu mencari. Tombol WhatsApp mengambang yang selalu ada di pojok adalah cara termurah menyelesaikan ini.

Pengunjung tidak pernah bilang website Anda membingungkan. Mereka hanya pergi, dan Anda tidak pernah tahu.

2. Loading lambat karena gambar tidak dikompres

Foto langsung dari kamera ponsel bisa 4 MB per gambar. Kalau halaman Anda memuat sepuluh foto seperti itu, pengunjung harus mengunduh 40 MB cuma untuk melihat beranda Anda. Di jaringan seluler yang biasa-biasa saja, itu belasan detik, dan kuota mereka ikut habis.

Padahal foto itu di layar cuma ditampilkan selebar 800 piksel. Dikompres ke format WebP, ukurannya bisa turun drastis tanpa perbedaan yang kelihatan mata. Ini pekerjaan sekali yang efeknya permanen.

3. Berantakan di ponsel

Website dibuat dan diperiksa di layar laptop, lalu di-approve dari layar laptop juga. Padahal mayoritas pengunjung Anda datang dari ponsel. Yang terjadi di layar kecil sering tidak pernah dilihat siapa pun: teks kekecilan, tombol terlalu rapat sehingga salah pencet, tabel yang harus digeser ke samping, atau gambar yang menutupi tulisan.

Mobile friendly bukan sekadar "muat di layar kecil", tapi nyaman dipakai dengan satu jempol sambil berdiri di angkot.

Cara mengeceknya tidak perlu alat khusus. Buka website Anda di ponsel, lalu coba lakukan hal yang Anda harapkan dilakukan pengunjung, misalnya menemukan harga lalu mengirim pesan. Kalau Anda sendiri sampai perlu memperbesar layar dengan dua jari, pengunjung Anda juga.

4. Tidak ada ajakan yang jelas di akhir

Banyak halaman berakhir begitu saja setelah penjelasan selesai. Pengunjung sudah tertarik, sudah yakin, lalu sampai di bawah halaman dan tidak ada apa-apa. Dia tidak akan berinisiatif mencari sendiri. Dia akan menutup tab.

Tiap halaman harus bisa menjawab satu pertanyaan: setelah membaca ini, pengunjung diminta melakukan apa? Satu ajakan yang jelas, bukan lima pilihan sekaligus. Terlalu banyak pilihan sama saja dengan tidak ada pilihan.

5. Bicara soal diri sendiri, bukan soal pembaca

Ini yang paling halus dan paling sering luput. Beranda dibuka dengan "Kami adalah perusahaan yang berdiri sejak 2015 dengan komitmen memberikan pelayanan terbaik". Kalimat itu benar, tapi pengunjung tidak sedang mencari itu. Dia sedang mencari jawaban apakah masalahnya bisa Anda selesaikan.

Bandingkan dengan "Atap bocor dan takut salah pilih tukang? Kami kerjakan sampai beres, dengan garansi setahun". Isinya sama-sama tentang Anda, tapi masuknya lewat masalah pembaca. Profil perusahaan tetap penting, tapi tempatnya bukan di kalimat pertama.

Cara mengeceknya sendiri dalam sepuluh menit

Anda tidak perlu ahli untuk menemukan kelima masalah ini. Lakukan ini sekarang:

  1. Buka website Anda dari ponsel sendiri, pakai kuota, bukan wifi kantor. Hitung berapa detik sampai tampil.
  2. Minta orang yang belum pernah lihat website Anda untuk membukanya, lalu diam saja perhatikan. Jangan dibantu. Lihat di mana dia bingung.
  3. Dari halaman mana pun, hitung berapa kali harus menyentuh layar sampai bisa mengirim WhatsApp ke Anda. Lebih dari dua, terlalu jauh.
  4. Baca kalimat pertama di beranda Anda. Kalau diawali kata "Kami", pertimbangkan menulis ulang dari sisi pembaca.
  5. Cek kecepatannya gratis lewat PageSpeed Insights dari Google, lalu perbaiki gambar yang dilaporkan kebesaran.

Kabar baiknya, kelimanya bisa diperbaiki di website yang sudah jadi tanpa membangun ulang dari nol. Kalau setelah mengecek ternyata banyak yang perlu dibenahi dan Anda lebih suka menyerahkannya ke orang lain, tim ModernWeb bisa bantu. Ceritakan saja kondisinya lewat WhatsApp, gratis, dan kami akan bilang terus terang kalau website Anda sebenarnya sudah cukup baik.

Website saya sepi, apakah pasti karena kesalahan ini?
Belum tentu. Kesalahan ini membuat pengunjung yang sudah datang jadi pergi. Kalau memang belum ada yang datang sama sekali, masalahnya beda, yaitu belum ada yang tahu website Anda ada. Cek dulu di Google Analytics atau Search Console apakah ada pengunjungnya.
Berapa detik loading yang masih bisa diterima?
Di bawah tiga detik di jaringan seluler sudah cukup baik untuk website profil bisnis. Di atas lima detik, sebagian besar pengunjung pergi sebelum halaman Anda sempat tampil.
Apakah tombol WhatsApp mengambang tidak mengganggu tampilan?
Kalau ukurannya wajar dan tidak menutupi teks, justru sebaliknya. Pengunjung yang belum tertarik akan mengabaikannya, dan yang sudah tertarik tidak perlu mencari. Yang mengganggu itu popup yang menutupi seluruh layar, bukan tombol kecil di pojok.
Bisakah kesalahan ini diperbaiki tanpa bikin website baru?
Sebagian besar bisa. Kompres gambar, tambah tombol kontak, dan tulis ulang teks adalah pekerjaan ringan. Yang biasanya makan waktu adalah kalau struktur halamannya memang tidak dirancang untuk layar kecil sejak awal.

Tinggalkan Komentar

Punya pertanyaan atau tanggapan soal artikel ini? Tulis di sini, pesan Anda langsung masuk ke WhatsApp tim kami.