Kembali ke Blog
Ilustrasi artikel perbandingan website dan media sosial

Website vs Media Sosial: Kenapa Bisnis Butuh Keduanya

"Sudah ada Instagram, buat apa website lagi?" Ini pertanyaan paling sering yang kami terima, dan pertanyaannya masuk akal. Instagram gratis, orangnya sudah ramai di sana, dan Anda sudah terlanjur mengumpulkan ribuan follower dengan susah payah.

Tapi pertanyaan itu sebenarnya membandingkan dua hal yang tugasnya berbeda. Di artikel ini kita bahas apa persisnya tugas masing-masing, apa yang terjadi kalau Anda cuma punya salah satunya, dan kalau uangnya memang terbatas, mana yang sebaiknya didahulukan.

Tugasnya berbeda, bukan bersaing

Bayangkan Anda membuka kedai kopi. Media sosial itu spanduk dan brosur yang Anda sebar di sekitar. Tugasnya membuat orang yang tadinya tidak tahu jadi tahu, dan tertarik mampir. Website itu kedainya sendiri: tempat orang duduk, melihat daftar menu, memperhatikan kebersihannya, lalu memutuskan jadi pesan atau tidak.

Spanduk yang bagus tidak bisa menggantikan kedai, dan kedai yang bagus tidak akan ramai kalau tidak ada yang tahu keberadaannya. Begitu juga di dunia digital. Media sosial mendatangkan perhatian, website mengubah perhatian jadi keputusan. Kalau Anda menuntut Instagram melakukan dua-duanya, hasilnya biasanya mengecewakan.

Media sosial itu spanduk yang menarik orang lewat. Website itu kedainya, tempat orang memutuskan jadi pesan atau tidak.

Kalau cuma punya media sosial

Masalah pertama adalah Anda menumpang di rumah orang. Algoritma bisa berubah dan jangkauan postingan Anda turun drastis tanpa pemberitahuan. Akun bisa kena batasan atau bahkan hilang karena kesalahan sistem, dan mengurusnya tidak semudah menelepon customer service. Semua follower yang Anda kumpulkan bertahun-tahun ikut hilang bersamanya.

Masalah kedua lebih sepele tapi sering terjadi: informasi penting tenggelam. Feed itu urutannya kronologis dan terus bergerak. Postingan harga yang Anda buat tiga bulan lalu praktis tidak akan ditemukan calon pelanggan baru, dan akhirnya Anda mengetik ulang jawabannya di DM, lagi dan lagi.

Masalah ketiga, ini yang paling mahal: Anda tidak muncul di Google. Orang yang mengetik "jasa katering pernikahan bandung" tidak sedang membuka Instagram. Mereka sedang mencari, artinya niat belinya jauh lebih tinggi, dan Anda tidak ada di sana.

Kalau cuma punya website

Kebalikannya juga tidak ideal. Website yang tidak pernah dipromosikan itu seperti kedai bagus di gang buntu tanpa papan nama. Google butuh waktu berbulan-bulan untuk mengenali website baru, dan sementara itu tidak ada yang datang.

Media sosial juga punya sesuatu yang tidak bisa ditiru website: keakraban. Orang melihat wajah Anda, proses kerja Anda, dan momen sehari-hari bisnis Anda. Rasa kenal itu yang membuat orang akhirnya berani mengeluarkan uang. Website jarang bisa membangun itu sendirian.

Ada juga soal kecepatan mencoba ide. Kalau Anda ingin menguji apakah produk baru diminati, satu postingan bisa memberi jawaban dalam sehari lewat komentar dan pesan yang masuk. Mengubah website untuk keperluan yang sama butuh waktu lebih lama, dan sering tidak sepadan kalau idenya masih coba-coba.

Cara keduanya bekerja sama

Alurnya sederhana kalau tugas masing-masing sudah jelas:

  1. Media sosial menarik perhatian orang yang tadinya tidak tahu bisnis Anda ada.
  2. Link di bio mengarahkan yang tertarik ke website, tempat semua informasi lengkap tersedia tanpa perlu bertanya.
  3. Website menjawab keraguan lewat portofolio, harga, dan testimoni, lalu mengarahkan ke tombol WhatsApp.
  4. Pesan yang masuk ke Anda sudah berkualitas, karena orangnya sudah tahu harga dan tetap menghubungi.

Efek sampingnya sering tidak disadari: pekerjaan Anda berkurang. Pertanyaan "harganya berapa kak?" yang selama ini memenuhi DM berpindah ke halaman yang bisa dibaca sendiri.

Kalau anggaran terbatas, dahulukan yang mana?

Mulai dari media sosial. Ini jujur saja, meskipun kami menjual jasa website. Media sosial gratis, dan yang paling Anda butuhkan di awal adalah tahu apakah ada orang yang mau membeli produk Anda sama sekali. Website tidak akan menyelamatkan bisnis yang belum punya pembeli.

Website mulai masuk akal saat media sosial Anda sudah ramai tapi mulai terasa sesak: DM penuh pertanyaan berulang, orang minta portofolio, dan Anda mulai kehilangan calon klien yang butuh kesan lebih meyakinkan. Di titik itu website bukan lagi pelengkap, tapi jalan keluar.

Kalau bisnis Anda sudah sampai di titik itu dan tinggal butuh sisi websitenya, tim ModernWeb bisa bantu. Paket Startup mulai Rp 1.499.000 untuk 3 halaman, pengerjaan sekitar 5 hari, sudah termasuk hosting, domain, dan integrasi ke WhatsApp serta akun media sosial Anda. Ngobrol dulu juga boleh, gratis.

Apakah Linktree atau link in bio sudah cukup menggantikan website?
Untuk sementara bisa membantu, tapi fungsinya cuma daftar link, bukan tempat meyakinkan orang. Isinya tidak bisa dicari lewat Google, tampilannya sama dengan ribuan bisnis lain, dan halaman itu tetap milik platform lain, bukan milik Anda.
Kalau sudah punya website, apakah media sosial boleh ditinggalkan?
Sebaiknya tidak. Website jarang mendatangkan pengunjung sendiri di awal. Media sosial tetap jadi sumber orang yang datang ke website Anda, terutama sebelum Google mengenali website Anda dengan baik.
Bisakah katalog produk di website tersambung ke WhatsApp?
Bisa, dan ini pola yang paling sering dipakai klien kami. Pengunjung melihat detail produk di website, lalu tombol pesan membuka WhatsApp dengan pesan yang sudah terisi nama produknya, jadi Anda langsung tahu yang ditanyakan.
Follower saya sudah puluhan ribu, apa website masih menambah sesuatu?
Justru di posisi itu website paling terasa gunanya. Dengan audiens sebesar itu, pertanyaan berulang yang masuk juga banyak, dan website memindahkan jawabannya ke tempat yang bisa dibaca sendiri kapan saja.

Tinggalkan Komentar

Punya pertanyaan atau tanggapan soal artikel ini? Tulis di sini, pesan Anda langsung masuk ke WhatsApp tim kami.